24 January 2009

Awakenings



Beberapa hari yang lalu, aku merasa kurang bersyukur pada hal-hal kecil yang aku terima atau hal-hal kecil yang kulakukan apalagi yang kulakukan setiap hari. Aku lebih tersadarkan pada hal-hal besar yang pernah kulakukan. Bila kulakukan hal-hal besar. Aku merasa hidup. Hal-hal kecil yang kurang menjadi perhatianku misalnya: bernafas, menggerakkan tangan, berjalan, membaca, memetik bunga, minum dan makan, bercukur, berdandan dan dsb. Kegiatan ini tiap hari ku lakukan hingga kadang aku merasa ini rutinitas dan tidak melihat maknanya ketika aku melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena aku atau kita (bila merasa iho), melihat hal-hal kecil dan apabila itu dilakukan setiap hari menjadi sebagai sesuatu yang diberikan [given]. Sesuatu yang diberikan pencipta kita kepada kita yang kebetulan kita mempunyai anggota badan yang lengkap. Kita tidak hidup dari keterbatasan tapi dari kelimpahan. Kelimpahan yang mempunyai dua matas sisi uang. Menjerumuskan atau memberikan manfaat. Namun, berbeda halnya bila engkau adalah penderita stoke atau parkinson. Tiba-tiba saja badanmu tidak dapat digerakkan hingga bertahun-tahun dan bahkan berpuluh-puluh tahun. Bila engkau mendapatkan kesempatan untuk dapat menjadi normal meskipun hanya satu hari saja, engkau akan sangat bersyukur terhadap sesuatu yang biasa kita terima [given] dan menyadari bahwa bersyukur pada hal-hal kecil adalah menjadi hidup [tersadarkan].

Menjadi hidup atau tersadarkan [awakening] adalah tema yang diangkat oleh film yang berjudul awakening. Cerita ini berawal dari kedatangan seorang dokter bernama dokter Sayer di rumah sakit khusus untuk pasien penderita neurologi. Dokter Sayer adalah dokter yang punya perhatian besar untuk menyembuhkan pasien neurologi. Para pasien ini kondisinya dapat dikatakan seperti “hantu”. Mereka tidak meninggal tapi juga tidak hidup. Mereka diam, tidak dapat mengerakkan seluruh anggota badan mereka dan tidak dapat merespon. Namun mereka dapat merasakan kehadiran orang-orang disekitar mereka, mereka dapat mendengar perkataaan dan melihat tindakan orang-orang tersebut.

Dokter Sayer memulai experimen untuk menyembuhkan para pasien melalui Leonard. Seorang bapak yang berusia 40 tahun namun berjiwa seorang anak berumur 11 tahun. Dokter Sayer ingin mengeluarkan Leonard dari keterkungkungan badannya yang tidak dapat digerakkan selama 29 tahun. Mulailah Dokter Sayer melakukan eksperimen kepada Leonard dan beberapa pasien neurologi.

Eksperimen yang dilakukan dokter Sayer adalah mencoba membuat mereka bangun [tersadarkan/awakening] dari ketiadaan dan ketidakberdayaan. Merasakan menjadi hidup adalah output dari eksperimen dokter Sayer.
Eksperimen yang dilakukan adalah membangunkan saraf dari para penderita parkinson atau stroke dengan melakukan permainan bola tangkap, memainkan musik dan mengajak bercerita.

Beberapa pasien cukup memberikan respon yang positif dari eksperiman dokter Sayer tersebut. Mereka dapat menangkap bola dan mengoper bola meskipun hanya tangan saja yang bergerak. Bila diputarkan musik, mereka dapat makan meskipun yang bergerak hanya tangan dan mulut. Mereka dapat berjalan apabila lantainya bergambar pola catur. Begitulah keseharian dari eksperimen tersebut. Sampai pada suatu saat dimana dokter Sayer merasa eksperimen ini sangat lambat. Dia mencoba memberikan obat untuk membangunkan syaraf tubuh bernama L-Dopa.

Obat tersebut diuji cobakan kepada Leonard dengan ijin ibu Leonard. Terjadilah keajaiban kepada Leonard keesokan harinya. Leonard dapat bangun dari tempat tidurnya, dapat perlahan2 berbicara dan mulai dapat mengerakkan tangannya. Leonard menjadi terbangun dan sadar. Perkembangan Leonard sangat positif. Ia menjadi normal kembali. Perkembangan inilah yang mendorong dokter Sayer untuk memberikan obat L-Dopa kepada pasien-pasien neurologi lainnya.

Keajaiban kedua terjadi. Para pasien tersebut dapat sembuh dan normal seperti Leonard. Mereka seakan-akan dibangunkan dari alam mimpi yang panjang. Mereka dapat melakukan aktivitas keseharian dan sangat menikmatinya. Benar-benar menikmati hal-hal kecil, yang sering kita lupakan seperti bermain, berteman, menyadari hangatnya keluarga dll.

Namun kondisi positif Leonard dan beberapa pasien tidak berlangsung lama. Hanya satu kali musim panas saja mereka dapat kembali normal seperti awal mereka sebelum sakit. Mereka berubah seakan-akan menjadi batu, diam dan tidak dapat mengerakkan seluruh badannya. Meskipun demikian, mereka sudah bersyukur dapat merasakan emosi akan setiap aspek dari kehidupan terutama pada hal-hal kecil dan sederhana. Sayangnya, bagi kita, terutama aku sulit menghargai setiap aspek kehidupan terutama yang kecil dan sederhana padahal kita diberikan karunia untuk HIDUP dan BERGERAK.

Read More......

05 March 2008

Kasur, Bantal-guling dan WC

Apakah teman-teman tahu kalau bed/kasur dulunya mempunyai sejarah bahkan mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai fungsinya? Begitu pula dengan bantal-guling dan wc (sampai ada museumnya iho...)Misal, pada jaman dahulu kasur/bed dipakai untuk tidur (ectus cubicularis), belajar (lectus lucubratorius) dan bahkan untuk tempat orang meninggal (a lectus funebris or emortualis).

Kata-kata diatas muncul ketika aku bangun dari kasurku yang empuk dan enak pada hari ini. Dulu aku tidak pernah mempertanyakan mengenai barang-barang yang selalu menemaniku setiap malam selama 9 tahun.

Aku lalu terdorong untuk berfikir lagi. Darimana nama kasur, bantal dan guling ini? Bagaimana asal usul barang-barang ini?. Belum selesai aku mempertanyakan keberadaan barang-barang ini, aku teringat mengenai wc duduk (Maklum aku aku sangat menyukai duduk berjam-jam-jam di wc duduk sambil membaca he..he..). Sama halnya dengan kasur, bantal dan guling. Aku juga mempertanyakan asal usul wc tersebut sampai pada mempertanyakan bentuk wc.

Aku coba browsing lewat web berbahasa Idonesia mengenai asal usul barang-barang kesayanganku ini dan ternyata sulit sekali untuk mendapatkan informasinya. Mengapa sulit? Mungkin barang-barang itu keberadaanya sudah dianggap biasa oleh banyak orang di Indonesia sehingga secara sadar tidak mempertanyakan lagi.

Namun aku tidak putus asa, dengan semangat ingin tahu yang tinggi..cie..cie.. akhirnya aku mendapatkan beberapa sumber mengenai asal usul barang-barang tersebut. Itu pun dari web yang berbahasa inggris. Ternyata kaya sekali asal usul sampai nama dan fungsi dari barang-barang ini pada jaman dahulu. Setiap nama mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Misalnya: kasur. Di jaman dahulu kasur mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai fungsinya. Sekarang?... sepertinya kita hanya mengetahui bed/kasur hanya berfungsi sebagai tempat untuk merebahkan tubuh.

Berikut postingan dari beberapa blog mengenai kasur, bantal-guling dan wc….

Kasur :

1)
Pada awal abad pertengahan, orang - orang Inggris menggunakan matras sebagai tempat tidur. Matras yang digunakan oleh orang - orang Inggris memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya yaitu pada ujung - ujung matrasnya diikat dengan tali yang dikaitkan ke rangka tempat tidur.Ketika seseorang hendak berangkat tidur, maka tali tersebut harus ditarik terlebih dahulu agar matras menjadi lebih kencang. Hal ini dimaksudkan agar tidurnya lebih nyaman. Dari kebiasaan ini, muncullah ekspresi “Good Night, Sleep Tight” (diambil dari : http://aansam.wordpress.com/2007/09/18/asal-mula-beberapa-istilah/)

2)
Early beds were little more than piles of straw or some other natural materials. An important change was raising them off the ground, to avoid drafts, dirt, and pest. The bed of Odysseus, a charpoy woven of rope, plays a role in the Odyssey of Homer. A similar bed can be seen at the Museum of Welsh life at St. Fagans, Cardiff. Ancient Romans had various kinds of beds for repose. These included:
•lectus cubicularis, or chamber bed, for normal sleeping;
•lectus discubitorius, or table bed, on which they ate—for they ate while lying on their left side—there being usually three people to one bed, with the middle place accounted the most honorable position;
•lectus lucubratorius, for studying;
•and a lectus funebris, or emortualis, on which the dead were carried to the pyre.
(Baca selanjutnya di : http://en.wikipedia.org/wiki/Bed#The_Ancient_World)

Bantal-guling : ( Nama Bahasa Inggrisnya aga aneh... Dutch Wife)

1)
Pillows were originally used mainly by the wealthy, and have been found in Ancient Egyptian tombs. The difficulty of sophisticated dyes and sewing techniques lead to the development of pillows as an art form, with highly decorated pillows becoming prized commodities first in China and later in Medieval Europe. The Industrial Revolution saw the mass production of decorated textiles and decorated pillows. Traditional Chinese pillows are often hard boxes made from stone, wood, metal, or porcelain instead of stuffed fabric. (Baca selanjutnya di : http://en.wikipedia.org/wiki/Pillow#History)

2)
….. Sejarah pergundikan di Indonesia pada masa lalu dimulai sejak kaum lelaki VOC datang ke kepulauan Hindia tanpa disertai istri-istri mereka. Konon, dari sini pula muncul bantal guling, bantal yang digunakan oleh kaum lelaki Belanda sebagai teman tidur mereka di Hindia. Tentu saja bantal guling tak lagi berfungsi sebagai teman tidur para meneer Belanda ketika tradisi memelihara perempuan pribumi sebagai gundik sudah dimulai. Gundik memang tak pernah dinikahi secara sah, namun mereka diharuskan melayani meneer Belanda itu sebagaimana layaknya seorang istri…. ( Baca Selanjutnya di: http://127.0.0.1:4664/cache?event_id=59908&schema_id=1&q=bantal+guling&s=XhSZoe85d4ct7TfaddHBEdQErWc)

Toilet/WC :

1)
Toilet telah digunakan sejak awal masa sejarah. Pada abad ke-25 SM, masyarakat Harappa di India memiliki toilet di setiap rumah yang dihubungkan dengan saluran air dari batu bata. Toilet juga ditemukan pada peradaban Mesir dan Tiongkok kuno. Di peradaban Romawi, toilet kadang merupakan bagian dari tempat mandi umum.
Penemuan toilet dengan fasilitas penyiraman diyakini dilakukan oleh Sir John Harington pada tahun 1596, walaupun penggunaannya secara umum baru berkembang setelah berbagai perbaikan atas temuan tersebut pada zaman Victoria di Inggris. (Baca selanjutnya di : http://id.wikipedia.org/wiki/Toilet#Sejarah)

Bahkan ada asal usul katanya :

The word "toilet" came to be used in English along with other French fashions. It originally referred to the toile, French for "cloth", draped over a lady or gentleman's shoulders whilst their hair was being dressed, and then (in both French and English) by extension to the various elements, and also the whole complex of operations of hairdressing and body care that centered at a dressing table, also covered by a cloth, on which stood a mirror and various brushes and containers for powder and make-up: this ensemble was also a toilette, as also was the period spent at the table, during which close friends or tradesmen were often received.(baca selanjutnya di: http://en.wikipedia.org/wiki/Toilet)

Read More......

19 February 2008

Aborsi Demi Kebaikan?

(gambar disamping adalah calon janin usia 1 minggu)

Budheku tiba-tiba berbicara sambil tersenyum terpaksa “ Mbakmu hamil. Usia kandungan 1 minggu Vit, kaget juga karena tidak direncanakan, dia tahunya setelah telat 1 minggu menstruasi “ katanya.

Hamil tanpa direncanakan? dibenakku... ya mungkin saja karena sodaraku secara pede jarang mengunakan kondom atau sarana kontrasepsi lainnya ketika berhubungan seksual. hal ini disebabkan masih menyusui. Ia percaya apabila sedang menyusui, kemungkinan untuk hamil kecil karena hormon reproduksi menjadi kurang berfungsi. Perkataannya sangat tidak masuk akal menurutku. Aku lalu coba mengecek ke berbagai literatur dan itu hanyalah mitos. Mitos inilah yang menurutku membuat sodaraku kebobolan hehehe….

Sodaraku sepertinya tidak siap dengan kehamilan keduanya. Ketidaksiapan ini dikarenakan karena ekonomi. Tabungan mereka untuk saat ini masih dialokasikan untuk anak pertamanya yang masih berusia 2,5 tahun.

Namun mereka tidak punya pilihan lain kecuali menerima pilihan tersebut. Padahal bila dicari, masih ada peluang. Aborsi adalah peluang satu-satunya. Kaget ya?? Aku juga…. Aku berkata demikian karena ada temanku yang sudah menikah menyarankan agar sodaraku melakukan aborsi. Ia berkata “ lebih baik aborsi daripada punya anak lagi. Lebih tidak manusiawi melahirkan anak tapi kondisi keuangan tidak siap. Itu sama saja merampas hak anak. Lagipula kehamilannya masih satu minggu… masih berbentuk seupil darah”

Pengakuan yang jujur dan masuk akal juga sih ditengah sulitnya mencari uang apalagi tinggal di Jakarta. Namun aku bertanya, dimana hati nuraninya? . Dia lalu menjawab “ hari gini bicara mengenai dosa, khan tidak apa-apa. Di agama boleh kok asal belum 44 hari karena belum berbentuk janin dan kalau mau aborsi harus lewat dokter “

Aku terkesima dengan kata-katanya yang santai tanpa ada perasaan bersalah. Aku lalu berkesimpulan bahwa hati nurani tidak berbicara bila dibenturkan pada masalah ekonomi dan mendidik anak. Apakah sampai separah itu?

Trend aborsi di pasangan suami istri sudah marak dilakukan. Hasil penelitian WHO bekerjasama dengan LSM perempuan dan Universitas Atmajaya menyebutkan pada tahun 2001, sekitar 85, 11% perempuan menikah menyetujui melakukan aborsi. Parahnya, sekitar 25-60% aborsi dilakukan secara sengaja. Aku tidak bisa membayangkan peningkatan jumlah pasien yang menginginkan aborsi disengaja pada tahun 2007 ini.

Bahkan, rumah sakit aborsi mulai marak bermunculan dengan mengunakan layanan medis seperti kita mengobati diri kita bila sakit. Pasien pergi ke rumah sakit ato klinik aborsi untuk mengobati diri dari sakit? Mempunyai anak yang tidak di inginkan adalah penyakit yang harus di obati dan dimatikan.. Wah....

Di rumah-rumah sakit ini tersedia dokter aborsi, perawat, peralatan canggih dan fasilitas konseling sebelum dan sesudah melakukan aborsi. Operasi aborsinya pun tidak murah, harga yang diberlakukan mulai dari Rp 2 jt. Ironisnya, praktek inipun dilegalkan oleh pemerintah dan peraturan mengenai aborsipun masih simpang siur tidak jelas dan tegas. Hal ini mengakibatkan munculnya peluang-peluang untuk aborsi.

Mengapa gejala ini marak terjadi dan dianggap biasa? Menurutku ada tiga alasan. Pertama, rendahnya pengetahuan akan pendidikan sex yang baik dan benar. Coba cek, apakah semua sekolah, keluarga-keluarga mengajarkan mengenai pendidikan sex. Orang tua menjadi takut dan malu untuk belajar memahami tubuhnya melalui pendidikan sexual. Sex lalu dianggap tabu dan semua orang diandaikan memahami pendidikan sex… (kata iklan “ hare gene ga tahu pendidikan sexual…”) Apakah benar asumsi bahwa berbicara mengenai pendidikan sex tabu sedangkan banyak fakta menunjukkan tend aborsi marak dikalangan keluarga menikah?

Kedua, ekonomi keluarga rendah. Rendahnya ekonomi keluarga menyebabkan mereka tidak mau mempunyai anak apabila tidak sesuai jadwal yang direncanakan. Namun disatu sisi mereka tetap rutin melakukan hubungan sexual tanpa dibekali pendidikan sex yang baik dan benar.

Ketiga, keuntungan yang didapat setelah menikah. Menikah bisa menguntungkan iho. Bagaimana tidak? Salah satu motivasi menikah adalah mempunyai anak. Namun pada kenyataannya, banyak keluarga-keluarga yang tidak ingin mempunyai anak karena berbagai hal seperti umur, banyak anak, penyakit, ekonomi dll. Hambatan-hambatan ini menyebabkan mereka melakukan aborsi. Tidak ada yang melarang dan tidak melanggar menurut hukum social dimasyarakat karena dianggap privacy rumah tangga masing-masing. Namun kalau ada perempuan belum menikah dan ingin aborsi, dianggap tindakannya tidak manusiawi dan menjadi aib. Aneh juga ya logika berfikir sekarang… tak tahulah aku…

Keanehan cara berfikir inilah yang menyebabkan pasangan keluarga menikah tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Tahunya adalah tindakan instant yakni membunuh calon janin. Bila anda berada pada posisi mengandung dan tidak siap mempunyai anak, apa yang anda lakukan? membunuhnya atau membiarkan janin tersebut hidup?

Read More......

13 February 2008

Komoditi Upacara Pernikahan



Beberapa kali aku hadir di upacara pernikahan temanku. Bentuk upacara pernikahannya macam-macam. Dari yang sederhana sampai yang paling wah. Tapi banyak orang melakukan pernikahan secara wah. Berikut beberapa gambaran pernikahan di lingkungan terdekatku yang kebetulan semuanya mewah. Mengapa pernikahan kebanyakan dilakukan secara mewah? adakah konsekwensinya bila melakukan pernikahan secara mewah?

Pernikahan yang paling wah adalah ketika aku diundang teman dekatku. Ia merayakan di Taman Mini Indonesia Indah. Ia mengeluarkan uang hampir 150 juta pada tahun 2005. Bayangkan, ia menyewa gedung dengan seluruh dekorasinya saja sudah jutaan. Tendanya penuh rumbai-rumbai, ada piano besar sebagai musik pengiring dan yang paling mengejutkan adalah cateringnya yang sangat uenak. Catering yang disewanya adalah catering no satu di Jakarta dan sudah menjadi langanan para pejabat penting. Standar harganya pun menjadi bergengsi dan mahal. Untuk paket sedang, harganya Rp 100.00/orang. Yang membuat mahal selain nama, juga rasa dan bentuk penyajiannya. Makanan yang disuguhkan rata-rata langsung dimasak ditempat. Kami seperti menikmati makanan segar. Temanku memesan untuk 1000-1500 orang. Bisa dibayangkan sangat mewah sekali dan benar-benar uenak. Sayangnya, setelah menikah, mereka terpaksa tinggal di rumah ibu mertua untuk sementara waktu karena belum mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan budget mereka.

Pernikahan kedua yang menurutku tidak kalah mahalnya tapi masih kalah wah dibandingkan dengan pernikahan teman dekatku adalah pernikahan sodaraku yang juga menikah di Taman Mini.. sepertinya Upacara pernikahan di Taman Mini tidak ada yang tidak wah ya..hehehe… Bedanya pernikahan ini tidak terlalu mahal karena catering yang dipilih lebih murah. Namun semurah-murahnya harga untuk satu orang Rp 60.000 ditahun yang sama dengan cerita di atas. Tidak hanya itu saja, dia juga mendatangkan perias dari Solo untuk mendandani keluarga manten dan sodara-sodaranya plus melakukan upacara adat ala Solo. Uang yang dikeluarkan untuk biaya keseluruhan pernikahan Rp 120 jt. Sayangnya lagi, setelah menikah mereka harus extra bekerja keras untuk menyilih uang yang telah dipakainya.

Pernikahan terakhir yang aku ikuti juga menghabiskan sekitar Rp 150 jt (aku baru saja pulang dari pernikahan ini). Pernikahan ini di selenggarakan di Lampung, disebuah daerah terpencil yang sulit di jangkau karena akses menuju tempat resepsi dan ijab harus melalui motor ato mobil. Bila kondisi hujan, jalan akan becek sekali sehingga kemungkinan kecelakaan besar. Ketika aku tanya sodaraku, alokasi dana yang banyak dikeluarkan untuk catering. Ia menjatah Rp 50.000 /orang untuk 1000 orang. Bisa dibayangkan sudah Rp 105.000.000 hanya untuk makan. Belum lagi untuk keperluan lainnya. Ohya, adiknya juga di nikahkan dengan adat dan cara yang sama dengan sodaraku (kakaknya) dan mengeluarkan uang yang sama pula. Bisa dibayangkan berapa pengeluaran kedua orang tua mereka selama satu tahun berturut-turut.

Aku lantas berfikir, wah hebat juga ya pernikahan di Indonesia ini? Meskipun aku tahu tidak semua orang mengeluarkan uang sebanyak Rp 100 jt untuk pernikahan. Kebanyakan sih antara 50 jt-90 jt. Meskipun demikian uang segitu khan tidak sedikit. Tapi bagi konglomerat atau orang kaya mungkin kecil jumlahnya kali ya..

Bila aku membaca laporan perekonomian Indonesia yang carut marut tidak jelas dan ketergantungan bangsa kita kepada bantuan asing sehingga bangsa kita dikenal kere atau istilah halusnya negara berkembang, kok berbeda ya dengan beberapa kenyataan yang aku temui dalam hal pengeluaran upacara pernikahan. Apakah benar bangsa kita lemah dalam perekonomian? Ataukah pura-pura lemah?

Mengapa aku berfikir demikian? Pertama, uang sebanyak 30 jt sampai ratusan jt bukanlah nominal yang kecil apalagi ditengah kesulitan ekonomi dan naiknya BBM. Kedua, peruntukan uang tersebut tidak berbekas dan tidak berbentuk. Kata lainnya hibah untuk keperluan adat. Ketiga, keuntungan yang didapat dari hibah tersebut tidak secara langsung tampak dimata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pemenuhan manfaat hanya dirasakan oleh keluarga yang melangsungkan hajat. Mereka merasa pede, tidak mider, tidak diomongin kalau upacara pernikahaannya cukup mewah, bisa menunjukkan punya uang dan bangga bisa menaikkan prestise di mata masyarakat dan keluarga.

Aku mencoba bertanya kepada keluarga-keluargaku yang melangsungkan pernikahan yang cukup wah ini. Mungkin mereka punya pandangan lain. Tapi perkataan mereka malah mengukuhkan pendapatku. Bahkan parahnya, mereka tidak merasa bersalah atau aneh untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Mereka berkata “.. ya khan biasa, adat dimanapun pasti ada yang harus ditonjolkan (harus wah). Kalo adat jawa ya resepsinya, kalo di NTT ya belisnya…lagian kalo anak pertama itu perempuan dan satu-satunya dalam keluarga memang harus dirayakan. Sekali seumur hidup”.

Sodara keduaku berkata “ kok mahal ya makanan RP 50.000/orang di daerah Lampung. Tapi mungkin juga sih, khan akses transportasinya mahal. Wajar..”

Sodara ketigaku juga berkata “.. memang sih hasil pernikahan tidak berbentuk. Gue juga heran, kok bisa ya habis untuk hal-hal yang tidak gue prediksikan. Padahal gue sudah survey kemana-mana. Gue cari barang berkualitas asal murah, hasilnya tetep banyak. Tapi ya gimana lagi, orang gue juga mau agak mewah untuk resepsi. Semua dekorasi dan acara di resepsi itu hasil pemikiran gue iho…”

Sebagian besar sodara dan teman-teman dekatku hampir mengatakan hal yang sama. Mereka juga tidak masalah masih ngempeng/tinggal dirumah orang tua mereka setelah menikah karena belum mempunyai cukup biaya untuk mengontrak rumah. Padahal mereka bisa melangsungkan pernikahan secara cukup mewah. Sebuah keterbatasan ekonomi yang dibuat oleh diri mereka sendiri. Namun tidak semua ingin merayakan pernikahan secara mewah dan mahal, meskipun jumlahnya lebih sedikit.

Cara pandang mengenai upacara pernikahan secara mewah ini menjadi hukum adat informal dan dipertahankan oleh masyarakat tanpa disadarinya. Bila tidak melakukan hukum adat ini, maka ada perasaan bersalah dan malu kepada sodara dan teman.

Upacara pernikahan juga sudah menjadi komoditi.Indikatornya mulai berjamurnya vendor pernikahan. Sebetulnya banyak praktek-praktek dalam upacara pernikahan secara adat yang tidak relevan untuk diterapkan. Namun manusia terkadang tidak pede apabila tidak menunjukkan identitas kesukuannya. Tulisan lanjutanku, aku akan mengeksplorasi mengenai praktek-praktek upacara pernikahan secara adat yang tidak relevan diterapkan. Mengapa tidak relevan? Apa yang membuat sudah tidak relevan?.. tunggu dan ikuti perkembangannya ya..

Read More......

08 January 2008

Makna Bekerja bag 1

Terbesit beberapa pertanyaan di otakku mengenai makna bekerja. Pertanyaan ini agak sulit aku cari jawabannya karena seperti mengambil telur atau ayam. Tapi meskipun demikian, pasti ada kecondongan untuk memilih A atau B. Pertanyaanya adalah:

1.Apa sih bedanya bekerja bagi dirimu sendiri dengan bekerja karena tugas?
2.Apa batasan bekerja bagi dirimu dengan bekerja karena tugas?
3.Bila orang bekerja mati-matian untuk mendapatkan gaji besar dapat disebut untuk diri sendiri atau dikarenakan karena tugas?

Adakah yang bisa membantuku untuk menjawab atau berkira-kira??

Read More......

14 September 2007

Korupsi Kecil-kecilan

Hari ini aku membeli mangga di pasar minggu secara tidak sengaja. Pada saat itu aku sedang berada di dalam metromini 75 jurusan Blok M – Pasar minggu. Metromini ini melintas perlahan-lahan ketika melewati pasar minggu yang padat dengan mikrolet dan para pedagang kaki lima penjual berbagai macam buah-buahan.

Aku tidak berniat turun dari metromini untuk membeli buah-buahan padahal sedikit terbesit keinginan membeli buah-buahan untuk aku membuat jus buah. Tapi berhubung para penjual buah-buahan itu memakai timbangan kue untuk menimbang, aku urungkan keinginanku. Dulu aku sering ditipu oleh penjual buah-buahan yang memakai timbangan kue. Berat buah yang aku beli lewat penjual yang memakai timbangan kue rata-rata selalu tidak akurat. Hal ini sudah aku buktikan dengan aku kadang iseng mengecek ke tetanggaku yang mempunyai timbangan tradisional (Ket. Timbangan ini berbahan besi, ada muntunya dari berat 1 ons-2 kilo dan sudah jarang dilihat dipasar-pasar tradisional)

Dengan seringnya menjadi korban penipuan, aku selalu hati-hati dalam memilih penjual buah-buahan.. bukan maunya diskriminatif sih.. tapi menghindari rasa penyesalan saja . Dari pengalaman itu, aku selalu memilih penjual yang mengunakan timbangan tradisional untuk menimbang buahnya dan kebetulan, hasil timbangan selalu cocok.

Aku mengikuti mataku ketika melihat satu orang penjual buah-buahan yang memakai timbangan tradisional. Yang ada dibenakku “ wah tumben nich masih ada penjual yang memakai timbangan tradisional, pasti jujur dan harganya murah “.

Cepat-cepat aku turun dari metromini dan berjalan kearah penjual buah-buahan tersebut. Setelah aku tawar dan cocok dengan harganya, aku membeli mangga harum manis 2 kilo. Dengan perasaan senang sambil membawa mangga 2 kilo, aku berangkat ke kantor.

Sesampai di pasar PSPT (dekat kantorku), aku iseng untuk nebeng menimbang disalah satu langganan penjual buah-buahan. Penjual ini memakai timbangan tradisional. Setelah aku mengeluarkan kantong plastic yang isinya mangga 2 kilo dan menaruhnya ke tempat timbangan dan ditimbang, betapa terkejutnya aku.. ternyata mangga yang aku beli tidak seberat 2 kilo tapi hanya 1.5 kilo!!

Perasaan kesal dan marah muncul didalam diriku. Aku ditipu lagi.. ternyata aku tidak bisa mempercayai secara mudah dan gampang. Aku sampai berfikir, " apa aku harus membawa timbanganku sendiri kali ya kalau aku ingin membeli buah di penjual buah jalanan??".

Jangan-jangan, salah satu penyebab orang membeli buah-buahan di mall/supermarket karena sering ditipu kalau membeli buah-buahan di pinggir jalan yang tidak dapat dijamin keakuratan timbangannya?

Read More......

24 May 2007

Pengalamanku berada di Pasar Modern dan Semi Modern

Hari ini aku pergi kedua pasar yang berbeda. Yang satu pasar modern dan biasa disebut supermarket dan yang satu adalah pasar semi modern yang sekarang digalakkan pemerintah untuk mempercantik penampilan fisik pasar tradisional.

Pasar modern ini disebut Super Indo yang terletak di Tebet Barat. Bila melihat bentuk bangunannya cukup bagus dan bersih. Bangunan terdiri dari 2 tingkat. Tingkat pertama digunakan untuk kios bunga. Dari kios bunga untuk dekorasi ruangan sampai bunga untuk acara kematian. Tingkat kedua digunakan untuk menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sama seperti layaknya pasar modern lainnya misalnya Alfa, Hero, GIAT, barang-barang yang dijual sangatlah bervariatif dari produksi local sampai ekspor. Barang –barang yang ditawarkan lumayan baik dan bagus, ditambah lagi dengan pendingin ruangan (AC) yang membuat banyak orang nyaman dan betah belanja daripada ke pasar tradisional, atau ke pasar semi modern.

Pasar semi modern ini disebut Pasar PSPT, Tebet Timur. Pasar ini dulunya adalah pasar tradisonal dan dipugar oleh pemerintah agar penampilannya cantik. Namun sayangnya untuk mendapatkan kesan penampilan cantik, para pedagang harus membayar sewa lapak sejumlah Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000/setahun. Banyak pedagang mengeluh mengenai tingginya sewa lapak. Barang-barang yang ditawarkan dalam pasar ini lebih variatif. Bayangkan dari makanan mentah, makanan jadi, pakaian, minuman, pakaian sampai tukang jahit baju bisa kita temui disini. Mengenai harga, pasti lebih miring karena tidak mengunakan pendingin udara (AC).

Perbedaan kedua pasar ini tidak hanya terlihat dari barang yang ditawarkan dan fasilitas bangunan saja. Namun sampai pada perilaku orang-orangnya. Bila aku ke pasar modern Super Indo, tidak ada interaksi antara pembeli dengan penjual. Yang ada adalah aku di suguhkan berbagai barang dan boleh kita ambil/tidak. Bila ada interaksi hanyalah sebatas menanyakan dimana letak barang A atau barang B ke petugas yang sedang merapikan barang. Selain itu mereka tak sedikit kurang tahu secara detail mengenai barang tersebut. Sesama pembelinyapun tidak ada interaksi. Masing-masing sibuk untuk mengambil barang. Berbeda halnya ketika aku membeli di pasar semi tradisional. Masih ada interaksi antara pembeli dan penjual meskipun dalam praktek penyajian barang sama halnya di pasar modern. Tidak sedikit yang kujumpai, antara pembeli dan penjual saling tawar menawar hingga mencapai harga disepakati dengan berbagai macam cara dan ekspresi. Dari ekspresi kesal sampai dengan ekspresi bercanda untuk menawar. Praktek marketing baik di pihak penjual dan pembeli terlihat dengan jelas disini. Apalagi kalau ternyata ada pembeli lain yang membeli dengan harga sama dan penjual tidak mau menurunkan, pasti tanpa dikomando sebelumnya, kedua pembeli yang tidak saling kenal ini bantu membantu merayu penjual untuk menurunkan harganya.

Ekspresi antar manusia di pasar semi modern ini yang kunikmati pada siang hari ini. Seperti melihat teater atau pertujukan pentas seni. Masing-masing memainkan perannya sesuai dengan karakter masing-masing. Ada raut muka kekesalan, bahagia, sedih, marah, kebosanan dll yang itu semua aku dapatkan dengan mengamati sejenak ketika aku berada di pasar semi tradisional.

Semoga pasar ini tidak hilang dan berubah fungsinya menjadi pasar modern. Jika pada akhirnya akan hilang, aku sangat merindukan suasana yang penuh ekspresi dan emosi ini…

Read More......