03 December 2006

Persahabatan Anjing dan Kucing


Aku mempunyai seorang anjing bernama Bobo, bulan Juni 2007 dia berumur dua tahun. Bagi anjing, usia dua tahun bisa dianggap usia yang yang cukup dewasa, setidaknya bobo sudah bisa menghamili anjing-anjing betina di kompleks Tebet.

Bila dilihat dari badannya, terkesan Bobo adalah anjing blasteran..iya sich memang blasteran, tapi bukan asli blasteran dari luar negeri seperti dalmatian, rotwailer. Bobo hanyalah blasteran dari anjing kampung dan anjing spunnel. Untungnya badan Bobo mengikuti anjing kampung, sedangkan bulu dan matanya sepertinya mengikuti anjing spunnel. Meskipun demikian, Bobo dipikir anjing luar iho.. tetangga sebelah mau membeli ketika Bobo masih seukuran sepatu boot dengan harga Rp 4 juta. Kita yang mendengar tersenyum lucu saja… not bad.. dihargai Rp 4 juta.

Badan Bobo sekarang sudah cukup besar, dia suka sekali mengangkat kedua tangannya ke meja dan mendengarkan kita berbicara bila di dapur. Bobo juga suka mengigit kaki atau tangan orang yang berada di dekatnya. Dia suka bercanda. Tapi hati-hati kalo dia membawa tulang, entah tulang ayam atau tulang sapi..jangan dekat-dekat dengan dia.. bisa-bisa kita di gigitnya.. kadang-kadang Bobo menyebalkan.

Bobo mempunyai adik (kok hewan kita perlakukan seperti manusia ya.. terpengaruh film Animal Farm nich kayanya..he..he..). Adiknya bukan seekor anjing atau monyet. Tapi seekor kucing (da tahu..khan ada jdlnya diatas!). Iya seekor kucing. Kucing ini adalah anak satu-satunya dari kucing pertama yang kita punyai dan meninggal karena ditabrak mobil tetangga. Kucing ini kita namakan manis. Ciri-ciri Manis berbulu (pastilah!), mempunyai warna bulu tiga macam (putih, coklat dan hitam). Manis ini mempunyai perilaku yang tidak seperti kucing. Kata teman yang kebetulan psikolog mengatakan kalau Manis itu kucing bermental anjing. Aku kaget dengan sindiran itu, Kucing bermental anjing?.. tapi kalau dilihat-lihat itu benar juga sich, karena dia tidak suka mencakar, lebih suka mengigit, suka memainkan kedua tangannya dan ekornya selalu bergerak-gerak. Apakah teman-teman pernah punya kucing dengan kecenderungan seperti ini ya?. Kalaupun tidur tingkahnya tidak karuan, terlentang seperti manusia, dia mengikuti cara tidur Bobo. Manis ini sepertinya tidak punya idola untuk ditiru (maklum ibunya membuang dia), maka dia meniru sesama makhluk berbulu alias Bobo.

Manis dan Bobo adalah sepasang hewan tapi punya banyak perbedaan. Perbedaan itu tidak usah disebut kali ya.. malu-maluin.. Namun yang anehnya dari kedua hewan ini adalah PERSAHABATAN yang terjalin diantara mereka. Persahabatan ini yang membuat mereka tidak saling memusuhi dan saling berbagi dalam hal makanan dan minuman. Keanehan ini awalnya tidak aku sadari. Tapi setelah aku sadari.. tampak jadi aneh. Aneh karena pada dasarnya kucing dan anjing tidak pernah akur atau berdamai. Bobopun hanya bisa bersahabat dengan Manis. Bila dengan kucing-kucing lain pasti dikejarnya.

PERSAHABATAN ini yang ingin aku tarik maknanya dari semua rangkaian tulisan dan ceritaku tentang kedua hewan ini. Aku membayangkan bila kita sebagai manusia yang diberi akal budi bisa menciptakan PERSAHABATAN, maka alangkah indahnya Indonesia ini.Tidak akan ada lagi perselisihan mengatasnamakan agama, suku dan ras , pengeksploitasian hak-hak kaum tertindas dan termajinalkan seperti buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota, buruh migran, anak-anak dan masih banyak lagi masalah yang terjadi di bumi Indonesiaku.

PERSAHABATAN seperti menjadi kata-kata yang klise dan abstrak dalam pergaulan masyarakat di sekarang ini. Apakah ini dampak dari globalisasi?, Jika iya, bagaimana kita akan menyikapinya? Ataukah tidak perlu karena tidak ada masalah.

Bagiku, bila mengingat kata PERSAHABATAN dan sulitnyanya menerapkan satu kata ini, aku ingat akan lagu REM yang berjudul everybody hurt. Iya..setiap orang terluka dan pilihannya apakah kita akan terus mengorek luka itu, atau kita membiarkan luka itu disembuhkan oleh orang-orang disekitar kita?. Bila kita membiarkan luka itu disembuhkan oleh orang disekitar kita, maka kita sudah melakukan proses membuka diri. Proses inilah jalan kearah PERSAHABATAN.

Maukah kita menjadi pioner untuk melakukan PERSABAHATAN yang tulus dengan orang-orang disekitar kita? Pertanyaan ini juga terus terngiang dalam diriku.

Read More......