22 March 2007

Senangnya Menjadi Fasilitator Outbound



Setahun yang lalu tepatnya bulan Desember 2006, aku diajak teman untuk bergabung menjadi fasilitator outbound untuk anak-anak kelas 1 SMU Regina Pacis, Bogor. Metode pelatihan ini menarik buatku dan belum pernah ada kelompok outbound yang membuat pelatihan semacam ini (sejauh yang aku ikuti iho). Salah satu yang menarik di pelatihan ini karena disetiap akhir permainan, peserta diajak untuk mengolah rasa yang ada di dalam diri maupun berkelompok. Metode pengolahan rasa yang dilakukan juga unik. Di tambah lagi, jenis permainan yang dipilih bukanlah jenis pemainan yang biasa saja. Hasilnya.. wow..di luar dugaan panitia, para peserta menjadi lebih kompak dan mereka meminta kita untuk membuat pelatihan lagi untuk mereka.

Pelatihan ini terbentuk karena ada kebutuhan dari pihak sekolah SMU Regina Pacis untuk menumbuhkan semangat solidaritas antar murid. Niat baik ini disambut dengan antusias oleh kelompok outbound yang bernama Naturestetika. Sebelum melakukan kegiatan pelathan, merekai mendatangi dan mengumpulkan semua ketua kelas satu SMU Regina Pacis. Tujuannya agar mengenal satu sama lain. Pepatah bilang (lupa dari mana..), tak kenal maka tak sayang..cie..cie..

Setelah mengenal mereka, beberapa tim inti dari Natur mulai mencari fasilitator yang dapat membantu mereka di lapangan karena jumlah peserta pelatihan banyak banget. Bayangkan (sebentar ya aku bayangkan… garing ga sich), selama seminggu penuh kita harus memberikan pelatihan ke 280 orang. Bakal kecapean banget kl tidak di dukung oleh banyak fasilitator. Tim Natur lalu mencari beberapa fasilitator dan diantaranya aku.

Sebelum pelatihan, jauh-jauh hari kita dikumpulkan untuk mengenal para fasilitator yang lain. selain itu, kita diajak untuk brainstorming tentang ketakutan kita terhadap pelatihan ini. Banyak hal negative yang muncul antara lain takut acara tidak lancar, teamwork tidak berjalan, tidak bisa berbaur dengan mereka karena kesulitan dalam berbahasa dan cara berfikir. Untungnya para tim inti Natur optimis dan memberikan kepercayaan penuh bahwa kita semua bisa mengatasi kesulitan ini.

Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba. Kami dibawa ke salah satu tempat di daerah Bogor. Tempatnya bagus sekali dan luas. Disinilah interaksi antara fasilitator dan peserta terjadi. Pukul 13.00, para peserta dan wali kelas 1.5 (kalau tidak lupa) datang. Menurut informasi, murid 1.5 ini paling nakal diantara seluruh kelas 1. wah deg-degan juga nich…setelah sesi perkenalan selesai, permainan dimulai. Setiap selesai pemainan, para peserta diajak untuk mengungkap rasa yang mereka alami secara pribadi maupun kelompok. Penggalian rasa ini tidak hanya dilakukan di akhir permainan, tapi juga di akhir acara.

Metode ini ternyata efektif. Terbukti dengan munculnya solidaritas dan kekompakan diantara peserta. Bahkan dari pelatihan ini, mulai terlihat individu-individu yang punya kapasitas untuk memimpin dan memperkuat teman-teman yang lain.

Pembelajaran untukku adalah ketakutan awalku tentang pelatihan ini tidak terbukti. Para fasilitator sangat kompak, saling memberi dukungan padahal kita belum mengenal secara mendalam. Ibarat tubuh, tidak ada dua kepala, empat tangan dan empat kaki. Masing-masing secara sadar diri memposisikan menjadi bagian tersendiri dan bekerja sesuai dengan bagiannya serta saling melengkapi. Selain itu, tidak ada kata-kata senoritas dan junioritas. Semangat yang ada adalah saling membantu tanpa banyak diminta, diperintah dan memberikan peluang kepada para fasilitator lain untuk membawakan sesi.
Aku senang mempunyai kesempatan untuk bergabung dengan tim ini. Banyak hal yang ku dapatkan. Baik secara ketrampilan, management dan sikap-sikap positif yang mereka pancarkan kepada kami yang masih pemula ini.

Kapan ya aku dapat bergabung lagi dengan mereka?

1 comments:

Anonymous said...

hai savitri, malam ini aku lagi kebingungan nyari fasilitator outbound...bisakah kau kontak aku ke 021 70195927. acara berlangsung 16-17 juli di pulau putri, pulau seribu. tks