24 May 2007

Pengalamanku berada di Pasar Modern dan Semi Modern

Hari ini aku pergi kedua pasar yang berbeda. Yang satu pasar modern dan biasa disebut supermarket dan yang satu adalah pasar semi modern yang sekarang digalakkan pemerintah untuk mempercantik penampilan fisik pasar tradisional.

Pasar modern ini disebut Super Indo yang terletak di Tebet Barat. Bila melihat bentuk bangunannya cukup bagus dan bersih. Bangunan terdiri dari 2 tingkat. Tingkat pertama digunakan untuk kios bunga. Dari kios bunga untuk dekorasi ruangan sampai bunga untuk acara kematian. Tingkat kedua digunakan untuk menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sama seperti layaknya pasar modern lainnya misalnya Alfa, Hero, GIAT, barang-barang yang dijual sangatlah bervariatif dari produksi local sampai ekspor. Barang –barang yang ditawarkan lumayan baik dan bagus, ditambah lagi dengan pendingin ruangan (AC) yang membuat banyak orang nyaman dan betah belanja daripada ke pasar tradisional, atau ke pasar semi modern.

Pasar semi modern ini disebut Pasar PSPT, Tebet Timur. Pasar ini dulunya adalah pasar tradisonal dan dipugar oleh pemerintah agar penampilannya cantik. Namun sayangnya untuk mendapatkan kesan penampilan cantik, para pedagang harus membayar sewa lapak sejumlah Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000/setahun. Banyak pedagang mengeluh mengenai tingginya sewa lapak. Barang-barang yang ditawarkan dalam pasar ini lebih variatif. Bayangkan dari makanan mentah, makanan jadi, pakaian, minuman, pakaian sampai tukang jahit baju bisa kita temui disini. Mengenai harga, pasti lebih miring karena tidak mengunakan pendingin udara (AC).

Perbedaan kedua pasar ini tidak hanya terlihat dari barang yang ditawarkan dan fasilitas bangunan saja. Namun sampai pada perilaku orang-orangnya. Bila aku ke pasar modern Super Indo, tidak ada interaksi antara pembeli dengan penjual. Yang ada adalah aku di suguhkan berbagai barang dan boleh kita ambil/tidak. Bila ada interaksi hanyalah sebatas menanyakan dimana letak barang A atau barang B ke petugas yang sedang merapikan barang. Selain itu mereka tak sedikit kurang tahu secara detail mengenai barang tersebut. Sesama pembelinyapun tidak ada interaksi. Masing-masing sibuk untuk mengambil barang. Berbeda halnya ketika aku membeli di pasar semi tradisional. Masih ada interaksi antara pembeli dan penjual meskipun dalam praktek penyajian barang sama halnya di pasar modern. Tidak sedikit yang kujumpai, antara pembeli dan penjual saling tawar menawar hingga mencapai harga disepakati dengan berbagai macam cara dan ekspresi. Dari ekspresi kesal sampai dengan ekspresi bercanda untuk menawar. Praktek marketing baik di pihak penjual dan pembeli terlihat dengan jelas disini. Apalagi kalau ternyata ada pembeli lain yang membeli dengan harga sama dan penjual tidak mau menurunkan, pasti tanpa dikomando sebelumnya, kedua pembeli yang tidak saling kenal ini bantu membantu merayu penjual untuk menurunkan harganya.

Ekspresi antar manusia di pasar semi modern ini yang kunikmati pada siang hari ini. Seperti melihat teater atau pertujukan pentas seni. Masing-masing memainkan perannya sesuai dengan karakter masing-masing. Ada raut muka kekesalan, bahagia, sedih, marah, kebosanan dll yang itu semua aku dapatkan dengan mengamati sejenak ketika aku berada di pasar semi tradisional.

Semoga pasar ini tidak hilang dan berubah fungsinya menjadi pasar modern. Jika pada akhirnya akan hilang, aku sangat merindukan suasana yang penuh ekspresi dan emosi ini…

0 comments: