19 February 2008

Aborsi Demi Kebaikan?

(gambar disamping adalah calon janin usia 1 minggu)

Budheku tiba-tiba berbicara sambil tersenyum terpaksa “ Mbakmu hamil. Usia kandungan 1 minggu Vit, kaget juga karena tidak direncanakan, dia tahunya setelah telat 1 minggu menstruasi “ katanya.

Hamil tanpa direncanakan? dibenakku... ya mungkin saja karena sodaraku secara pede jarang mengunakan kondom atau sarana kontrasepsi lainnya ketika berhubungan seksual. hal ini disebabkan masih menyusui. Ia percaya apabila sedang menyusui, kemungkinan untuk hamil kecil karena hormon reproduksi menjadi kurang berfungsi. Perkataannya sangat tidak masuk akal menurutku. Aku lalu coba mengecek ke berbagai literatur dan itu hanyalah mitos. Mitos inilah yang menurutku membuat sodaraku kebobolan hehehe….

Sodaraku sepertinya tidak siap dengan kehamilan keduanya. Ketidaksiapan ini dikarenakan karena ekonomi. Tabungan mereka untuk saat ini masih dialokasikan untuk anak pertamanya yang masih berusia 2,5 tahun.

Namun mereka tidak punya pilihan lain kecuali menerima pilihan tersebut. Padahal bila dicari, masih ada peluang. Aborsi adalah peluang satu-satunya. Kaget ya?? Aku juga…. Aku berkata demikian karena ada temanku yang sudah menikah menyarankan agar sodaraku melakukan aborsi. Ia berkata “ lebih baik aborsi daripada punya anak lagi. Lebih tidak manusiawi melahirkan anak tapi kondisi keuangan tidak siap. Itu sama saja merampas hak anak. Lagipula kehamilannya masih satu minggu… masih berbentuk seupil darah”

Pengakuan yang jujur dan masuk akal juga sih ditengah sulitnya mencari uang apalagi tinggal di Jakarta. Namun aku bertanya, dimana hati nuraninya? . Dia lalu menjawab “ hari gini bicara mengenai dosa, khan tidak apa-apa. Di agama boleh kok asal belum 44 hari karena belum berbentuk janin dan kalau mau aborsi harus lewat dokter “

Aku terkesima dengan kata-katanya yang santai tanpa ada perasaan bersalah. Aku lalu berkesimpulan bahwa hati nurani tidak berbicara bila dibenturkan pada masalah ekonomi dan mendidik anak. Apakah sampai separah itu?

Trend aborsi di pasangan suami istri sudah marak dilakukan. Hasil penelitian WHO bekerjasama dengan LSM perempuan dan Universitas Atmajaya menyebutkan pada tahun 2001, sekitar 85, 11% perempuan menikah menyetujui melakukan aborsi. Parahnya, sekitar 25-60% aborsi dilakukan secara sengaja. Aku tidak bisa membayangkan peningkatan jumlah pasien yang menginginkan aborsi disengaja pada tahun 2007 ini.

Bahkan, rumah sakit aborsi mulai marak bermunculan dengan mengunakan layanan medis seperti kita mengobati diri kita bila sakit. Pasien pergi ke rumah sakit ato klinik aborsi untuk mengobati diri dari sakit? Mempunyai anak yang tidak di inginkan adalah penyakit yang harus di obati dan dimatikan.. Wah....

Di rumah-rumah sakit ini tersedia dokter aborsi, perawat, peralatan canggih dan fasilitas konseling sebelum dan sesudah melakukan aborsi. Operasi aborsinya pun tidak murah, harga yang diberlakukan mulai dari Rp 2 jt. Ironisnya, praktek inipun dilegalkan oleh pemerintah dan peraturan mengenai aborsipun masih simpang siur tidak jelas dan tegas. Hal ini mengakibatkan munculnya peluang-peluang untuk aborsi.

Mengapa gejala ini marak terjadi dan dianggap biasa? Menurutku ada tiga alasan. Pertama, rendahnya pengetahuan akan pendidikan sex yang baik dan benar. Coba cek, apakah semua sekolah, keluarga-keluarga mengajarkan mengenai pendidikan sex. Orang tua menjadi takut dan malu untuk belajar memahami tubuhnya melalui pendidikan sexual. Sex lalu dianggap tabu dan semua orang diandaikan memahami pendidikan sex… (kata iklan “ hare gene ga tahu pendidikan sexual…”) Apakah benar asumsi bahwa berbicara mengenai pendidikan sex tabu sedangkan banyak fakta menunjukkan tend aborsi marak dikalangan keluarga menikah?

Kedua, ekonomi keluarga rendah. Rendahnya ekonomi keluarga menyebabkan mereka tidak mau mempunyai anak apabila tidak sesuai jadwal yang direncanakan. Namun disatu sisi mereka tetap rutin melakukan hubungan sexual tanpa dibekali pendidikan sex yang baik dan benar.

Ketiga, keuntungan yang didapat setelah menikah. Menikah bisa menguntungkan iho. Bagaimana tidak? Salah satu motivasi menikah adalah mempunyai anak. Namun pada kenyataannya, banyak keluarga-keluarga yang tidak ingin mempunyai anak karena berbagai hal seperti umur, banyak anak, penyakit, ekonomi dll. Hambatan-hambatan ini menyebabkan mereka melakukan aborsi. Tidak ada yang melarang dan tidak melanggar menurut hukum social dimasyarakat karena dianggap privacy rumah tangga masing-masing. Namun kalau ada perempuan belum menikah dan ingin aborsi, dianggap tindakannya tidak manusiawi dan menjadi aib. Aneh juga ya logika berfikir sekarang… tak tahulah aku…

Keanehan cara berfikir inilah yang menyebabkan pasangan keluarga menikah tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Tahunya adalah tindakan instant yakni membunuh calon janin. Bila anda berada pada posisi mengandung dan tidak siap mempunyai anak, apa yang anda lakukan? membunuhnya atau membiarkan janin tersebut hidup?

0 comments: