13 February 2008

Komoditi Upacara Pernikahan



Beberapa kali aku hadir di upacara pernikahan temanku. Bentuk upacara pernikahannya macam-macam. Dari yang sederhana sampai yang paling wah. Tapi banyak orang melakukan pernikahan secara wah. Berikut beberapa gambaran pernikahan di lingkungan terdekatku yang kebetulan semuanya mewah. Mengapa pernikahan kebanyakan dilakukan secara mewah? adakah konsekwensinya bila melakukan pernikahan secara mewah?

Pernikahan yang paling wah adalah ketika aku diundang teman dekatku. Ia merayakan di Taman Mini Indonesia Indah. Ia mengeluarkan uang hampir 150 juta pada tahun 2005. Bayangkan, ia menyewa gedung dengan seluruh dekorasinya saja sudah jutaan. Tendanya penuh rumbai-rumbai, ada piano besar sebagai musik pengiring dan yang paling mengejutkan adalah cateringnya yang sangat uenak. Catering yang disewanya adalah catering no satu di Jakarta dan sudah menjadi langanan para pejabat penting. Standar harganya pun menjadi bergengsi dan mahal. Untuk paket sedang, harganya Rp 100.00/orang. Yang membuat mahal selain nama, juga rasa dan bentuk penyajiannya. Makanan yang disuguhkan rata-rata langsung dimasak ditempat. Kami seperti menikmati makanan segar. Temanku memesan untuk 1000-1500 orang. Bisa dibayangkan sangat mewah sekali dan benar-benar uenak. Sayangnya, setelah menikah, mereka terpaksa tinggal di rumah ibu mertua untuk sementara waktu karena belum mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan budget mereka.

Pernikahan kedua yang menurutku tidak kalah mahalnya tapi masih kalah wah dibandingkan dengan pernikahan teman dekatku adalah pernikahan sodaraku yang juga menikah di Taman Mini.. sepertinya Upacara pernikahan di Taman Mini tidak ada yang tidak wah ya..hehehe… Bedanya pernikahan ini tidak terlalu mahal karena catering yang dipilih lebih murah. Namun semurah-murahnya harga untuk satu orang Rp 60.000 ditahun yang sama dengan cerita di atas. Tidak hanya itu saja, dia juga mendatangkan perias dari Solo untuk mendandani keluarga manten dan sodara-sodaranya plus melakukan upacara adat ala Solo. Uang yang dikeluarkan untuk biaya keseluruhan pernikahan Rp 120 jt. Sayangnya lagi, setelah menikah mereka harus extra bekerja keras untuk menyilih uang yang telah dipakainya.

Pernikahan terakhir yang aku ikuti juga menghabiskan sekitar Rp 150 jt (aku baru saja pulang dari pernikahan ini). Pernikahan ini di selenggarakan di Lampung, disebuah daerah terpencil yang sulit di jangkau karena akses menuju tempat resepsi dan ijab harus melalui motor ato mobil. Bila kondisi hujan, jalan akan becek sekali sehingga kemungkinan kecelakaan besar. Ketika aku tanya sodaraku, alokasi dana yang banyak dikeluarkan untuk catering. Ia menjatah Rp 50.000 /orang untuk 1000 orang. Bisa dibayangkan sudah Rp 105.000.000 hanya untuk makan. Belum lagi untuk keperluan lainnya. Ohya, adiknya juga di nikahkan dengan adat dan cara yang sama dengan sodaraku (kakaknya) dan mengeluarkan uang yang sama pula. Bisa dibayangkan berapa pengeluaran kedua orang tua mereka selama satu tahun berturut-turut.

Aku lantas berfikir, wah hebat juga ya pernikahan di Indonesia ini? Meskipun aku tahu tidak semua orang mengeluarkan uang sebanyak Rp 100 jt untuk pernikahan. Kebanyakan sih antara 50 jt-90 jt. Meskipun demikian uang segitu khan tidak sedikit. Tapi bagi konglomerat atau orang kaya mungkin kecil jumlahnya kali ya..

Bila aku membaca laporan perekonomian Indonesia yang carut marut tidak jelas dan ketergantungan bangsa kita kepada bantuan asing sehingga bangsa kita dikenal kere atau istilah halusnya negara berkembang, kok berbeda ya dengan beberapa kenyataan yang aku temui dalam hal pengeluaran upacara pernikahan. Apakah benar bangsa kita lemah dalam perekonomian? Ataukah pura-pura lemah?

Mengapa aku berfikir demikian? Pertama, uang sebanyak 30 jt sampai ratusan jt bukanlah nominal yang kecil apalagi ditengah kesulitan ekonomi dan naiknya BBM. Kedua, peruntukan uang tersebut tidak berbekas dan tidak berbentuk. Kata lainnya hibah untuk keperluan adat. Ketiga, keuntungan yang didapat dari hibah tersebut tidak secara langsung tampak dimata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pemenuhan manfaat hanya dirasakan oleh keluarga yang melangsungkan hajat. Mereka merasa pede, tidak mider, tidak diomongin kalau upacara pernikahaannya cukup mewah, bisa menunjukkan punya uang dan bangga bisa menaikkan prestise di mata masyarakat dan keluarga.

Aku mencoba bertanya kepada keluarga-keluargaku yang melangsungkan pernikahan yang cukup wah ini. Mungkin mereka punya pandangan lain. Tapi perkataan mereka malah mengukuhkan pendapatku. Bahkan parahnya, mereka tidak merasa bersalah atau aneh untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Mereka berkata “.. ya khan biasa, adat dimanapun pasti ada yang harus ditonjolkan (harus wah). Kalo adat jawa ya resepsinya, kalo di NTT ya belisnya…lagian kalo anak pertama itu perempuan dan satu-satunya dalam keluarga memang harus dirayakan. Sekali seumur hidup”.

Sodara keduaku berkata “ kok mahal ya makanan RP 50.000/orang di daerah Lampung. Tapi mungkin juga sih, khan akses transportasinya mahal. Wajar..”

Sodara ketigaku juga berkata “.. memang sih hasil pernikahan tidak berbentuk. Gue juga heran, kok bisa ya habis untuk hal-hal yang tidak gue prediksikan. Padahal gue sudah survey kemana-mana. Gue cari barang berkualitas asal murah, hasilnya tetep banyak. Tapi ya gimana lagi, orang gue juga mau agak mewah untuk resepsi. Semua dekorasi dan acara di resepsi itu hasil pemikiran gue iho…”

Sebagian besar sodara dan teman-teman dekatku hampir mengatakan hal yang sama. Mereka juga tidak masalah masih ngempeng/tinggal dirumah orang tua mereka setelah menikah karena belum mempunyai cukup biaya untuk mengontrak rumah. Padahal mereka bisa melangsungkan pernikahan secara cukup mewah. Sebuah keterbatasan ekonomi yang dibuat oleh diri mereka sendiri. Namun tidak semua ingin merayakan pernikahan secara mewah dan mahal, meskipun jumlahnya lebih sedikit.

Cara pandang mengenai upacara pernikahan secara mewah ini menjadi hukum adat informal dan dipertahankan oleh masyarakat tanpa disadarinya. Bila tidak melakukan hukum adat ini, maka ada perasaan bersalah dan malu kepada sodara dan teman.

Upacara pernikahan juga sudah menjadi komoditi.Indikatornya mulai berjamurnya vendor pernikahan. Sebetulnya banyak praktek-praktek dalam upacara pernikahan secara adat yang tidak relevan untuk diterapkan. Namun manusia terkadang tidak pede apabila tidak menunjukkan identitas kesukuannya. Tulisan lanjutanku, aku akan mengeksplorasi mengenai praktek-praktek upacara pernikahan secara adat yang tidak relevan diterapkan. Mengapa tidak relevan? Apa yang membuat sudah tidak relevan?.. tunggu dan ikuti perkembangannya ya..

0 comments: