24 January 2009

Awakenings



Beberapa hari yang lalu, aku merasa kurang bersyukur pada hal-hal kecil yang aku terima atau hal-hal kecil yang kulakukan apalagi yang kulakukan setiap hari. Aku lebih tersadarkan pada hal-hal besar yang pernah kulakukan. Bila kulakukan hal-hal besar. Aku merasa hidup. Hal-hal kecil yang kurang menjadi perhatianku misalnya: bernafas, menggerakkan tangan, berjalan, membaca, memetik bunga, minum dan makan, bercukur, berdandan dan dsb. Kegiatan ini tiap hari ku lakukan hingga kadang aku merasa ini rutinitas dan tidak melihat maknanya ketika aku melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena aku atau kita (bila merasa iho), melihat hal-hal kecil dan apabila itu dilakukan setiap hari menjadi sebagai sesuatu yang diberikan [given]. Sesuatu yang diberikan pencipta kita kepada kita yang kebetulan kita mempunyai anggota badan yang lengkap. Kita tidak hidup dari keterbatasan tapi dari kelimpahan. Kelimpahan yang mempunyai dua matas sisi uang. Menjerumuskan atau memberikan manfaat. Namun, berbeda halnya bila engkau adalah penderita stoke atau parkinson. Tiba-tiba saja badanmu tidak dapat digerakkan hingga bertahun-tahun dan bahkan berpuluh-puluh tahun. Bila engkau mendapatkan kesempatan untuk dapat menjadi normal meskipun hanya satu hari saja, engkau akan sangat bersyukur terhadap sesuatu yang biasa kita terima [given] dan menyadari bahwa bersyukur pada hal-hal kecil adalah menjadi hidup [tersadarkan].

Menjadi hidup atau tersadarkan [awakening] adalah tema yang diangkat oleh film yang berjudul awakening. Cerita ini berawal dari kedatangan seorang dokter bernama dokter Sayer di rumah sakit khusus untuk pasien penderita neurologi. Dokter Sayer adalah dokter yang punya perhatian besar untuk menyembuhkan pasien neurologi. Para pasien ini kondisinya dapat dikatakan seperti “hantu”. Mereka tidak meninggal tapi juga tidak hidup. Mereka diam, tidak dapat mengerakkan seluruh anggota badan mereka dan tidak dapat merespon. Namun mereka dapat merasakan kehadiran orang-orang disekitar mereka, mereka dapat mendengar perkataaan dan melihat tindakan orang-orang tersebut.

Dokter Sayer memulai experimen untuk menyembuhkan para pasien melalui Leonard. Seorang bapak yang berusia 40 tahun namun berjiwa seorang anak berumur 11 tahun. Dokter Sayer ingin mengeluarkan Leonard dari keterkungkungan badannya yang tidak dapat digerakkan selama 29 tahun. Mulailah Dokter Sayer melakukan eksperimen kepada Leonard dan beberapa pasien neurologi.

Eksperimen yang dilakukan dokter Sayer adalah mencoba membuat mereka bangun [tersadarkan/awakening] dari ketiadaan dan ketidakberdayaan. Merasakan menjadi hidup adalah output dari eksperimen dokter Sayer.
Eksperimen yang dilakukan adalah membangunkan saraf dari para penderita parkinson atau stroke dengan melakukan permainan bola tangkap, memainkan musik dan mengajak bercerita.

Beberapa pasien cukup memberikan respon yang positif dari eksperiman dokter Sayer tersebut. Mereka dapat menangkap bola dan mengoper bola meskipun hanya tangan saja yang bergerak. Bila diputarkan musik, mereka dapat makan meskipun yang bergerak hanya tangan dan mulut. Mereka dapat berjalan apabila lantainya bergambar pola catur. Begitulah keseharian dari eksperimen tersebut. Sampai pada suatu saat dimana dokter Sayer merasa eksperimen ini sangat lambat. Dia mencoba memberikan obat untuk membangunkan syaraf tubuh bernama L-Dopa.

Obat tersebut diuji cobakan kepada Leonard dengan ijin ibu Leonard. Terjadilah keajaiban kepada Leonard keesokan harinya. Leonard dapat bangun dari tempat tidurnya, dapat perlahan2 berbicara dan mulai dapat mengerakkan tangannya. Leonard menjadi terbangun dan sadar. Perkembangan Leonard sangat positif. Ia menjadi normal kembali. Perkembangan inilah yang mendorong dokter Sayer untuk memberikan obat L-Dopa kepada pasien-pasien neurologi lainnya.

Keajaiban kedua terjadi. Para pasien tersebut dapat sembuh dan normal seperti Leonard. Mereka seakan-akan dibangunkan dari alam mimpi yang panjang. Mereka dapat melakukan aktivitas keseharian dan sangat menikmatinya. Benar-benar menikmati hal-hal kecil, yang sering kita lupakan seperti bermain, berteman, menyadari hangatnya keluarga dll.

Namun kondisi positif Leonard dan beberapa pasien tidak berlangsung lama. Hanya satu kali musim panas saja mereka dapat kembali normal seperti awal mereka sebelum sakit. Mereka berubah seakan-akan menjadi batu, diam dan tidak dapat mengerakkan seluruh badannya. Meskipun demikian, mereka sudah bersyukur dapat merasakan emosi akan setiap aspek dari kehidupan terutama pada hal-hal kecil dan sederhana. Sayangnya, bagi kita, terutama aku sulit menghargai setiap aspek kehidupan terutama yang kecil dan sederhana padahal kita diberikan karunia untuk HIDUP dan BERGERAK.

Read More......